Cari Dokter

Kategori: Indikator Mutu

15/07/2021

PLAN

  1. Tim berencana mengetahui waktu lapor hasil tes kritis laboratorium.
  2. Unit kerja laboratorium diminta untuk melaporkan data indikator mutu waktu lapor hasil tes kritis laboratorium.
  3. Target indikator mutu waktu lapor hasil tes kritis laboratorium sebesar 100%.

DO

  1. Penilaian data dilakukan setiap hari di instalasi laboratorium.
  2. Periode pengumpulan data dilakukan setiap bulan yang kemudian di analisa setiap 3 (tiga) bulan.
  3. Melakukan monitoring dan evaluasi waktu lapor hasil tes kritis laboratorium.
  4. Pemeriksaan sampel darah harus segera dilaksanakan setelah sampel terkirim ke laboratorium.
  5. Pemantauan server secara berkala.

STUDY Nilai kritis laboratorium adalah hasil pemeriksaan laboratorium di mana nilainya dibawah atau diatas nilai normal sesuai regulasi yang telah ditetapkan rumah sakit yang harus segera dikomunikasikan kepada DPJP untuk tindakan selanjutnya. Laporan petugas laboratorium ke DPJP atau perawat/bidan di mana pasien dirawat dapat menyelamatkan pasien di kondisi yang lebih parah, sehingga keselamatan pasien dalam pelayanan asuhan pasien dapat terpantau dengan baik. Berdasarkan grafik 2, dapat terlihat bahwa indikator waktu lapor hasil tes kritis laboratorium pada bulan Maret mencapai target yaitu 100%. Untuk selanjutnya, d

15/07/2021

PLAN

  1. Tim berencana mengetahui apakah petugas di unit pelayanan melakukan identifikasi pasien dalam proses pelayanan asuhan pasien.
  2. Unit pelayanan diminta untuk melaporkan data identifikasi pasien dalam proses pelayanan asuhan pasien setiap bulan.
  3. Target indikator kepatuhan identifikasi pasien sebesar 100%.

DO

  1. Penilaian data dilakukan setiap hari di setiap unit pelayanan.
  2. Periode pengumpulan data dilakukan setiap bulan yang kemudian di analisa setiap 3 (tiga) bulan.
  3. Melakukan pemantauan terkait identifikasi pasien dalam proses pelayanan asuhan pasien.

STUDY Identifikasi pasien dalam proses pelayanan asuhan pasien di unit pelayanan dilaksanakan dengan tujuan tergambarnya upaya rumah sakit dalam menjaga keselamatan pasien. Mencegah terjadinya kesalahan identifikasi pasien, kesalahan prosedur, kesalahan medikasi, kesalahan transfuse dan kesalahan pemeriksaan diagnostic. Kesalahan identifikasi pasien diakui sebagai masalah yang terbesar di dalam organisasi kesehatan. Kesalahan identifikasi pasien merupakan salah satu resiko paling serius terhadap keselamatan pasien. Kepatuhan identifikasi pasien dalam proses pelayanan asuhan pasien di unit pelayanan merupakan hal prinsip yang harus dimiliki ketika melaksanakan identifikasi. Berdasarkan grafik 1, dapat diliha

15/07/2021

PLAN

  1. Tim berencana mengetahui keterlambatan pelayanan ambulans di rumah sakit untuk rujukan antar rumah sakit.
  2. Unit kerja SIM-RS diminta untuk melaporkan keterlambatan pelayanan ambulans di rumah sakit untuk rujukan antar rumah sakit setiap bulan.
  3. Target indikator keterlambatan pelayanan ambulans di rumah sakit untuk rujukan antar rumah sakit sebesar 3%

DO

  1. Penilaian data dilakukan setiap bulan di unit evakuasi IGD.
  2. Periode pengumpulan data dilakukan setiap bulan yang kemudian di analisa setiap 3 (tiga) bulan.
  3. Melakukan pemantauan terkait pelaporan indikator keterlambatan pelayanan ambulans di rumah sakit untuk rujukan antar rumah sakit.

STUDY Rujukan antar rumah sakit adalah proses untuk mendapatkan pelayanan yang lebih baik sesuai kebutuhan pasien dimana rumah sakit yang jadi tujuan terdapat SDM dan fasilitas yang diperlukan sesuai dengan kondisi kesehatan pasien. Salah satu fasilitas untuk memperlancar pelaksanaan proses rujukan adalah tansportasi dari rumah sakit asal ke rumah sakit rujukan. Jenis transportasi dalam hal ini adalah ambulance yang dapat disiapkan oleh rumah sakit atau pihak lain tergantung pilihan pasien dan keluarga. Untuk selanjutnya, tim memonitor pelaksanaan penyediaan ambulance di rumah sakit dalam upaya peningkatan mutu dan kesel

Posted in Area Manajemen, Indikator Mutu by PKRS
15/07/2021

PLAN

  1. Tim berencana mengetahui keterlambatan waktu penanganan kerusakan hadwere/jaringan Oleh SIM RS.
  2. Unit kerja SIM-RS diminta untuk melaporkan keterlambatan waktu penanganan kerusakan hadwere/jaringan Oleh SIM RS setiap bulan.
  3. Target indikator keterlambatan waktu penanganan kerusakan hadwere/jaringan Oleh SIM RS sebesar 0%

DO

  1. Penilaian data dilakukan setiap bulan di unit SIM-RS.
  2. Periode pengumpulan data dilakukan setiap bulan yang kemudian di analisa setiap 3 (tiga) bulan.
  3. Melakukan pemantauan terkait pelaporan indikator keterlambatan waktu penanganan kerusakan hadwere/jaringan Oleh SIM RS.

STUDY Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit adalah suatu sistem teknologi informasi komunikasi yang memproses dan mengintegrasikan seluruh alur proses pelayanan rumah sakit dalam bentuk jaringan koordinasi, pelaporan dan prosedur administrasi untuk memperoleh informasi secara tepat dan akurat, dan merupakan bagian dari system informasi kesehatan. Salah satu persyaratan SIM-RS berdasarkan PMK Nomor 82/2013 antara lain arsitektur SIM-RS paling sedikit terdiri atas kegiatan pelayanan utama (front office), kegiatan administrasi (back office) dan komunikasi dan kolaborasi. Selain itu rumah sakit dapat mengembangkan SIM-RS dengan menambahkan arsitektur

Posted in Area Manajemen, Indikator Mutu by PKRS
15/07/2021

PLAN

  1. Tim berencana mengetahui ketidaklengkapan dokumen pendukung penagihan biaya perawatan.
  2. Unit kerja rekam medis diminta untuk melaporkan ketidaklengkapan dokumen pendukung penagihan biaya perawatan setiap bulan.
  3. Target indikator ketidaklengkapan dokumen pendukung penagihan biaya perawatan sebesar 1%.

DO

  1. Penilaian data dilakukan setiap bulan di unit rekam medis.
  2. Periode pengumpulan data dilakukan setiap bulan yang kemudian di analisa setiap 3 (tiga) bulan.
  3. Melakukan pemantauan terkait pelaporan indikator ketidaklengkapan dokumen pendukung penagihan biaya perawatan.

STUDY Kelengkapan dokumen pendukung penagihan biaya perawatan menggambarkan perediksi pemasukan rumah sakit khususnya pasien BPJS karena hal tersebut menjadi syarat mutlak bagi BPJS untuk membayarkan klem perawatan dimana BPJS melakukan pembayaran klem perawatan dengan berbasis bukti. Berdasarkan grafik 7, terlihat bahwa tidak ada data yang di input oleh PIC data unit rekam medis. Indikator tersebut tetap harus dipantau secara rutin setiap bulan dengan terus melaksanakan kegiatan peningkatan dengan metode P-D-C-A ACTION Rekomendasi yang diusulkan adalah PIC data unit rekam medis rutin menginput data dalam SISMADAK untuk mengetahui pemasukan dari pemasukan pasien dari BPJS a

Posted in Area Manajemen, Indikator Mutu by PKRS